Sebelas Tahun Wonderbra: Menyusuri Jejak-jejak Diri Sendiri

Oleh Nosa Normanda

Maret ini Wonderbra ulang tahun yang ke 11. Lima tahun yang lalu, Thera pernah gue paksa nulis di tumblr ketika dia lagi liburan di negeri Mama Caceres (Alm). Sekarang gue ada di Washington DC dan  nggak bisa ikut merayakan secara langsung. Karena itu hari ini, gantian, gue yang kirim tulisan. Tulisan ini adalah soal hal-hal yang gue persembahkan untuk Wonderbra di ulang tahunnya yang ke 11 ini. Ada beberapa hal yang sudah gue lakukan dan ada beberapa hal yang sedang dalam proses.

Yang Sudah Dilakukan

Pertama tentunya peluncuran video klip dan single “Simple Things.” Syuting video klip ini udah lama banget, tapi gue nggak pernah punya waktu buat ngeditnya. Selain itu konsep utamanya adalah gue mau ngerekam semua personel satu persatu, dimulai dari Kuyut. Kuyut nyanyi, sementara yang lain akan gabung sama orang-orang jadi pekerja kantorlah, atau jadi kulilah. Ini ide gue dapet udah lama banget, dari jaman Asep masih kerja di perusahan game online, tiap hari bolak balik Depok-Kuningan pake seragam kayak orang bengkel. Kesihan banget keadaannya–walau gaji doi waktu itu lumayan. Editing video ini terus tertunda karena di Indonesia gue banyak banget proyek. Selain buat nabung ke Amerika, juga buat bikin film gue sendiri. Maka, mimpi untuk syuting Asep, Thera dan gue sendiri terpaksa tak tercapai. Gue tadinya pengen anak-anak syuting sendiri, tapi gue tahu mereka juga sibuk, jadi yaudah lah. Akhirnya gue edit video ini di Amerika.

Biar lu pada tahu aja, ini video emang sengaja gue bikin dengan dana nol dan dengan hp Samsung Galaxy Note I. Gue bisa aja pake kamera DSLR yang proper, tinggal minjem. Tapi gue pengen nunjukkin kalo berkarya itu bisa banget dilakukan dengan keterbatasan-keterbatasan, dan hasilnya bisa lumayan kalo lu tahu apa yang mau lu buat. Punya alat tapi miskin konsep sih percuma. Waktu syuting, gue udah kebayang banget video ini mau gue superimpose dengan rel kereta dan perkotaan Jakarta yang udah kayak kanker ke Indonesia. Walau adegan-adegan Thera, Asep dan Gue nggak ada, akhirnya nggak ngaruh-ngaruh amat. Hasil akhir videonya masih sesuai dengan konsep awal gue.

Kedua, gue udah lama pengen bikin wikipedia Wonderbra dan dua albumnya Crossing The Railroad dan #fiksifriksi. Capek banget bo, tapi worth it! Gue rasa band gue pantas tercatat di sejarah, dengan apa yang sudah kami lalui. Tapi seperti biasa, karena nggak ada yang nulisin, tulis aje sendiri, yang penting sumber-sumbernya jelas. Waktu bikin Wikipedia itulah gue sadar, bahwa arsip kami begitu ancur-ancuran. Kami beberapa kali masuk koran cetak, tapi koran yang sudah kami beli itu tercecer kemana-mana. Begitupun majalah. Kami sudah masuk Provoke! dua kali dan Rolling Stone juga dua kali. Koran-koran lokal dari Jawa Pos sampai Tribun Medan pun kami pernah diliput. Tapi pengarsipan kami yang buruk, membuat itu semua raib entah kemana. Membuat Wikipedia Wonderbra ngasih gue PR baru yaitu berusaha membuat database dan arsip Wonderbra yang rapih di Website (online) dan di Harddisk (Offline).

Ini mengantar kita pada kado ke tiga gue: arsip. Kalau lu perhatikan beberapa minggu belakangan ini, page Wonder selalu mengupload arsip-arsip lama baik dari koran, website atau blog yang pernah menulis soal Wonder atau personel kami. Arsip-arsip itu gue unggah ulang di lapak sendiri karena yang namanya website berubahnya itungan detik, dan resiko untuk data-data itu hilang karena perpindahan domain dsb, sangat besar. Harapan gue referensi-referensi ini bisa lebih lama ada di internet. Untuk foto dan video, gue juga bikin backupnya di harddisk. Untuk artikel, gue langsung copy-paste dan gue edit dikit di blog website ini. Gue belum punya waktu untuk bikin salinannya di hard disk gue. Senang sekali bisa baca tulisan temen-temen Diggers buat kami. Nggak banyak, tapi paling nggak kami jadi paham bahwa kami lumayan kasih impact. Sekarang, lu bisa cek arsip-arsip kita dari tahun 2007 sampai hari ini, kalau lu perlu tahu sesuatu soal kita. Gue juga akan berusaha terus untuk update pengarsipan, setiap ada tulisan soal Wonderbra yang pantas buat disimpan–yang bukan ngomongin kami dalam satu dua kata.

Kado keempat gue adalah logo. Logo Wonderbra yang dibuat ketika album #fiksifriksi didesain rasanya udah kuno banget, terlalu gelap, dan ribet. Gue mau bikin logo Wonderbra jadi lebih sederhana, dua dimensi, nggak pake embel-embel bevel dan emboss yang norak. Tapi simbol-simbolnya harus sama dengan logo lama, karena pemaknaannya menurut gue udah cukup sophisticated, seperti yang bisa lu baca di artikel, “Makna Simbol Wonderbra” ini.

Logo wonderbra

Logo Baru Wonderbra

Yang Masih Proses dan Akan Dilakukan

Proyek Wonderbra yang paling dekat adalah mixing dan mastering lagu “Dia dan Aku,” tribute untuk maestro penyair Sitor Situmorang, yang akan diterbitkan dalam kompilasi ILUNI Sastra UI. Harusnya kompilasi ini keluar Februari kemarin, tapi entah kenapa tertunda-tunda. Album ketiga Wonderbra juga akan dilanjutkan prosesnya ketika gue pulang dari Amerika sekitar akhir bulan Mei. Seperti biasa, album harus selesai sebelum Thera cabut PhD di tengah tahun 2017 nanti. Dia udah dapet beasiswa LPDP, kasih selamat ya kalau kalian ketemu dia.

Proyek terdekat yang sedang gue lakukan dari Amerika adalah menggarap tiga video klip. Pertama video klip “It’s Loona,” satu-satunya lagu powerpop di #fiksifriksi yang gue karang sendiri, dan gue nyanyiin sendiri. Hati kecil gue sebenernya bilang, “Nos, lu pathetic banget sih, lu bikin lagu sendiri, nyanyiin sendiri, video bikin sendiri. Kayak nggak ada orang yang menghargai karyalu sampe mau bikinin video buat elu.” Pikiran ini lama bikin gue ogah pegang-pegang lagu Wonderbra untuk jadi video klip setelah “Simple Things.” Terlebih lagi, sudah ada tiga proyek video yang kami lakukan dengan kawan-kawan kami sendiri: dari team8 yang kemarin bikinin live Crossing The Railroad, Bersama Project yang kemarin bikinin live Indie V, dan Bayusvwara yang sudah merekam versi live kami dan sedang memprosesnya. Saya pasrah menunggu, siapa tahu ada videografer lain yang mau membuatkan kami video klip secara cuma-cuma.

Foto oleh Iman Fattah

Bayusvara concert shoot. Foto oleh Iman Fattah

Sampai gue nonton sebuah pementasan musikal off-Broadway berjudul The Lion. Aktor/penyanyi/gitarisnya, Ben Scheuer, menggunakan seluruh hidupnya sebagai plot cerita dan lagu. Dalam sebuah kuliah umum di Google Talk, Ben bilang bahwa ia hidup untuk seni dan akan selalu membuat seni separah apapun keadaannya. Ben pernah menderita kanker Lymphoma dan dalam keadaan sekaratnya ia berhasil mengajak kerjasama seorang fotografer untuk membuat foto-foto tubuhnya yang sedang menjalani kemoterapi. Dalam kuliah di Google itu, Ben membakar semangat gue untuk berkarya. Katanya, (gue parafrase) “Buatlah lagu-lagu, buatlah pementasan, buatlah album, buatlah bukunya, naskah dramanya, buatlah video klipnya, buatlah filmnya. Jangan pernah berhenti membuat yang bisa kau buat. Jangan pernah menunggu pengakuan orang lain kalau seni itu memang hidup dalam darahmu.” Maka gue terbakar energi. Gue udah punya skrip untuk empat video klip wonder. Pertama “It’s Loona” yang sedang proses syuting, lalu “Panah” yang footagenya sudah lengkap tinggal diedit–tapi belum akan dirilis sampe album ketiga siap, lalu “Since My Baby,” dan satu ide yang sudah siap konsep videonya tapi lagunya belum direkam adalah, “Desertir.”

Rencana gue, sebelum balik ke Indonesia “It’s Loona” akan selesai diedit, dan “Since My Baby” akan selesai syuting. Itu adalah dua video Wonderbra yang akan disyut di Amerika. Karena walaupun kami jarang berkarya, kami kudu punya gaya. Dan ngomong-ngomong soal gaya, kami juga sedang membuat merchandise berupa kaos dan totebag. Nantikan yaa.

*

Tahun ke sebelas ini gue merasa Wonderbra sudah cukup dewasa untuk tahu bagaimana satu sama lain bekerja. Kami harus selalu siap vakum dan di saat yang sama harus juga selalu siap berkarya. Arsip-arsip dan karya-karya ini akan menjadi pondasi di rumah di mana kami akan selalu kembali, dan bisa mengingat apa saja yang telah kami lalui di hidup kami bersama satu sama lain. Paling tidak, ketika kevakuman itu tiba lagi, kalian bisa baca dan nonton arsip-arsip ini sambil menanti kami kembali. Tapi tenang saja, kami masih punya waktu lumayan untuk bikin video-video album kedua, rilis album ketiga, video album ke tiga, manggung-manggung, jual merch, sampai nanti Thera cabut untuk PhD. Kami akan utuh lagi di Depok-Jakarta pertengahan tahun ini. Sampai ketemu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Ada Cinta di Lemari