Meeting Bengbeng Is Easy

oleh Manan Rasudi
Diunggah tanggal 28 Maret 2015 di http://www.jakartabeat.net/kolom/konten/meeting-bengbeng-is-easy

Pagi 26 Maret 2015, sebelum foto ini diambil, saya kena tipu pedagang Ipod tangan kedua di sebuah lapak online kenamaan. Gara-gara ceroboh, saya cuma beroleh Ipod rusak dan kehilangan sejumlah uang cukup untuk membeli 2 buah Vinyl Homicide yang terlanjur overpriced.

Hubungan saya dan Ipod memang tak selalu baik. Dari 2009 hingga sekarang, saya sudah membeli sekurang-kurangnya 4 Ipod Classic (6th & 7 Generation). Naasnya, 4 kali juga Ipod angkat kaki sekonyong-konyong. Caranya bisa macam-macam, dari raib dicolong dalam perjalanan keluar kota, hancur terbanting hingga bad sector stadium akhir. Maka, jika seorang kawan pernah mengklaim sudah 5 kali diinjak-injak wanita di Jogja, saya lebih naas. 5 kali sudah saya diinjak-injak Ipod di Jakarta.

Sayangnya, pengalaman kehilangan 4 ipod sebelumnya tak punya andil sedikit pun untuk mempersiapkan saya menghadapi penipuan jual beli online. Sesaat setelah sadar ditipu, respon saya cuma satu: mengumpat “tai!” dalam hati saja.

Saya beruntung. Penghiburan lekas datang. Hari itu, dalam rangka menonton panggung Nosa Normanda bersama bandnya, Wonderbra, saya bertandang ke Rolling Stone Cafe. Ini adalah gig terakhir Nosa bersama Wonderbra. Ia bakal menyusul istrinya bermukim di kampung Ian Mackaye, Washington DC, untuk beberapa saat. Wonderbra main pertama. Jujur saja, mereka manggung tidak bagus juga tidak jelek. Yang saya ingat cuma dua: output mereka yang terlalu tajam serta seorang drummer cabutan yang cukup bertenaga walau –menurut saya sih– masih kurang lengket di beberapa bagian lagu.

Tentunya, menonton Wonderbra bukan suatu hiburan buat saya, arasnya sudah ritual. Member Wonderbra adalah sekumpulan kawan dekat dan bekas rekan ngekost, dulu ketika masih kuliah di Depok. Lagipula, saya pernah bereksperimen menjadi manager band bersama mereka. Jadi, sebenarnya saya bisa nonton mereka 3 kali sehari kalau saya mau dan –jika hanya jika– mereka laku.

Justru, yang menjadi hiburan bagi saya semalam adalah perjumpaan saya dengan salah satu pahlawan remaja saya, Bengbeng. Bagi pemerhati musik rock yang besar di dekade 90 serta belum jadi hipster pada senjakala orde baru, Bengbeng adalah gitaris yang tidak bisa dipandang mata. Saya sendiri kerap membandingkan Bengbeng dengan mendiang Miten. Dua-duanya canggih dan tak ada yang jelek. Walau akhirnya saya juga mendengarkan karya-karya Miten, saya dulu lebih memilih Bengbeng sebab solo-solo gubahan gitaris sekal murah senyum ini terutama di album favorit saya Psycho I.D begitu variatif, dari yang melengking dan meliuk ala dewa gitar akhir 80an dalam “Kembali”, terdengar ke-arab-araban di “Regulasi”, Lirih dan sentimentil dalam “Sublim” hingga –ini yang bikin saya jatuh cinta– Tom Morello-esque di lagu “Dimana Para Bestari”. Gara-gara lebarnya permainan Bengbeng, mudah untuk jatuh cinta pada Psycho I.D. Saya pun mulai merunut balik diskografi mereka.

Psycho I.D –cinta pertama saya– memang penanda patahan selera musik saya. Sebelum album ke-4 Pas Band, kaset yang saya dengarkan tak jauh-jauh dari U2, Collective Soul, Michael Learns to Rock, The Moffats serta album-album Def Leppard dekade 90an yang jeleknya ga ketulungan. Psycho I.D memaksa saya menggusur semua album itu –kecuali album U2 dari dekade 80an– dan menggantinya dengan album RHCP, Pantera, Rage Against The Machine, Rush Hingga Faith No More. Asal Anda tahu, semua kaset dari band yang ada di kalimat tadi itu saya beli cuma karena satu alasan sepele: nama bandnya tercantum di sleeve Psycho I.D. Premisnya, kalau Psycho I.D sekeren itu, maka album band-band yang disebut dalam kertas sampulnya dijamin maknyus!

Bill Brudford, mantan drummer dua Progrock Titan, Yes dan King Crimson, pernah berujar “The smartest thing I did was to get born in 1949. Brilliant, brilliant. Cos at 18, you’re in 1968. Europe’s aflame. The Paris Riots. Perfect!” Saya, sebaliknya, kerap merasa lahir terlambat. Lahir di tahun 1983, saya tak cukup dewasa untuk bisa menonton konser Metallica di Lebak Bulus atau menjadi saksi lawatan Beastie Boys dan Foo Fighters ke Jakarta. Namun, sebagai pembelaan, kadang saya kerap berkilah bahwa setidaknya sudah cukup dewasa ketika Psycho I.D dan Insting Psiko Harmoni –album sophomore Plastik keluar. Saya tahu betapa hebatnya dua album itu pada masanya. Namun, jika harus memilih dari dua album itu, saya bakal pilih Psycho I.D. Ia punya maqam yang tinggi di masa remaja saya.

Dengan Psycho I.D, saya yang bermuka culun lagi polos bisa terkesan memberontak lagi berani. Mau memberontak ke orang tua saya? Gampang! Tinggal putar lagu pertama di side B kasetnya, “Tak Sudi”. Lagu ini kerap mengingatkan saya pada Blood milik Pearl Jam, kerap saya putar kencang-kencang di rumah kecil bapak saya. Terutama kalau agak sebel dengan Bapak. Alasannya? Nama bapak saya Rasudi dan backing vocal di lagu ini sangat menakjubkan “(tak sudi) sudi anjing! kumaha aing-aing aing!”. Pun, jika ingin memberontak pada bapak yang lebih besar –Bapak Pembangunan misalnya– album yang sama masih sama ampuhnya. Caranya gampang: rapalkan saja lirik dalam lagu “Simala Karma” ini “Dan kita pun di sini terbungkam bubuk nasi/Gayamu yang simpati tapi busuk dari hati”. Rapalan ini jika digabung dengan ritual mengacungkan cover Psycho I.D –artworknya bergambar 4 anggota keluar dari muka yang sepintas mirip Soeharto– bisa membuat anda terkesan radikal dan berani, tentunya untuk ukuran saat itu.

Namun, rasanya –ini sekadar dugaan saya– susah menghargai betapa paripurnanya album Pas Band ke-4 ini jika anda terlanjur hipster di akhir 90an. Saya yang belum hipster (baca: memiliki akses pada MTV Asia) kala itu memandang album ini sebagai capaian terbaik Bengbeng, Yuki, Trisno dan Richard Mutter. Album sebelumnya masih kurang matang sementara album setelah seperti kehilangan gigi. Bagi saya, Psycho I.D adalah Mellon Collie and the Infinite Sadness-nya Pas Band. Namun, tentunya cara pandang yang sama tak akan keluar dari Begawan musik indonesia macam David Tarigan. David berkali-kali menegaskan bahwa pada dekade 90an, ia justru cemburu dengan scene musik Philipina dan Singapore. Baginya, yang segar ada di sana. Yang tersedia di sini, termasuk Pas Band, hanya –mengutip kata-kata beliau– adik tiri melayu dari Pearl Jam.

Tentunya, tak ada yang salah dari pendapat David. Toh, Yukie dengan terang-terangan mengaku bahwa Eddie Vedder –bersama Anthony Kiedis dan Giddy Lee– sebagai influence-nya. Jadi, tuduhan David memang berdasar. Namun, yang mungkin luput dari pendapatnya adalah konteks keberadaan Pas Band dalam sejarah musik Indonesia. Bagi saya, entahlah bagi David, Pas Band itu penting sebab sejelek apapun Pas Band, Ia pernah jadi band yang “berbahaya” bagi pecandu musik keras yang tak kebagian siaran MTV Asia.

Sampai sekitar tahun 1998, tontonan TV di rumah tak bergeser dari dua pilihan: siang TPI & sore serta malam TVRI. Guna menonton acara di TV swasta lain, saya kerap harus nebeng di rumah seorang guru ngaji. Tentunya, dengan suguhan video klip yang kadang dianggap seronok, memantengi MTV adalah hal yang mustahil. Singkatnya, numpang nonton TV di rumah mereka yang berduit untuk beli decoder dan parabola, bagi saya, sama dengan berbagi tonton macam Doraemon, Kimba Singa Putih, Ksatria Baja Hitam sampai Pendekar Pemanah Rajawali.

Syahdan, dengan absennya akses menonton MTV, Saya dengan beberapa teman di Cirebon misalnya sudah berasa paling ngehip dengan modal yang murah: membeli kaset Nirvana Unplugged, Metalik Klinik 1 atau Psycho I.D. Kala itu, mana pernah kami bicara tentang Pavement, Swervedriver, Morbid Angel apalagi My Bloody Valentine. Saya berani bertaruh –ini agak gegabah sebenarnya– jika saja kawan-kawan SMP saya masih menelusuri musik pasca mendengar Pas Band sampai saat ini, ketika mengunduh sesudah sewajar membeli pulsa telpon maka mereka, saya dan David bisa ngopi dan ngobrol ngalor ngidul tentang At The Drive-In, PJ Harvey, John Zorn atau, kalau David berkenan, Eraserhead.

Kembali ke Pas Band, kuartet ini juga menyelamatkan kami dari gempuran dan kejudmudan band-band Slow Rock Malaysia atau lagu-lagu pasangan artis –kala itu– Anang dan Krisdayanti. Lagipula, kita berutang banyak pada Bengbeng dan kawan-kawannya. Lewat lagu “Kucing”, kami di sebuah kampung di Cirebon dikenalkan pada nama-nama band yang kala itu masih asing, Puppen dan Full Of Hate. Rasanya tanpa Pas Band –semua orang tahu ini– sebagian kita tak akan menyenandungkan “Atur Aku”, mendengar Pure Saturday, Ikut moshing di gig Seringai dan belanja di Lawless. Dan tanpa Pas Band, Arman Dhani –penulis dan selebtweet kesohor cum Baymax impersonator– tak akan mengenakan T-shirt bergambar artwork Southern Lord!

Sayangnya, kamis malam lampau, saya cuma bisa diam di depan Bengbeng. Padahal, ini klise sih, saya hendak mengucapkan terimakasih atas Psycho I.D. dan semua album sebelumnya sekaligus minta maaf karena saya jadi murtad mulai album.. Ketika. Saya memang fans parsial. Pas Band bagi saya adalah Pas Band dengan Richard Mutter duduk di balik set drum. Namun, parsial atau tidak, saya tetap diperlakukan layaknya fans lainnya. Bengbeng masih menyuguhkan senyum khas lelaki pasundan yang ramah, senyum yang sama menghiasi mukanya setiap manggung, senyum yang membuat saya lupa tentang uang saya yang parkir di dompet seorang penipu.

Dan, senyum yang sama, dulu jadi modal saya berkelakar “Kalau Tom Morello itu lahir di Bandung, ia pasti dipanggil Bengbeng!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Ada Cinta di Lemari